Kesalahan Umum dalam Digital Marketing yang Harus Dihindari
Digital marketing memberikan banyak peluang bagi bisnis untuk menjangkau calon pelanggan. Website, media sosial, mesin pencari, marketplace, email, hingga iklan digital membuat perusahaan dapat memperkenalkan produk kepada pasar yang jauh lebih luas dibandingkan hanya mengandalkan pemasaran secara offline.
Namun, kemudahan tersebut juga dapat membuat bisnis menjalankan terlalu banyak aktivitas tanpa arah yang jelas.
Perusahaan membuat akun di berbagai media sosial, menjalankan iklan, membuat konten setiap hari, memperbaiki website, mengirim broadcast, menggunakan influencer, dan mencoba berbagai channel baru. Aktivitas marketing terlihat sangat sibuk, tetapi setelah beberapa bulan hasil penjualan tidak banyak berubah.
Kondisi seperti ini menunjukkan bahwa banyaknya aktivitas belum tentu menghasilkan pemasaran yang efektif.
Digital marketing bukan sekadar persoalan seberapa sering sebuah bisnis membuat konten atau berapa besar anggaran iklan yang digunakan. Perusahaan tetap perlu memahami target pelanggan, tujuan pemasaran, pesan yang ingin disampaikan, perjalanan pelanggan, hingga bagaimana hasil setiap aktivitas diukur.
Karena itu, memahami kesalahan umum dalam digital marketing yang harus dihindari menjadi penting agar perusahaan tidak hanya menghabiskan waktu dan anggaran, tetapi benar-benar membangun aktivitas pemasaran yang mendukung pertumbuhan bisnis.
Memulai Digital Marketing Tanpa Tujuan yang Jelas
Salah satu kesalahan paling mendasar adalah melakukan pemasaran digital hanya karena bisnis lain melakukannya.
Kompetitor aktif di Instagram, perusahaan ikut membuat Instagram.
Kompetitor menjalankan iklan Google, perusahaan ikut memasang iklan.
Ada platform baru yang sedang ramai, perusahaan merasa harus segera berada di sana.
Padahal setiap channel membutuhkan sumber daya.
- Ada biaya.
- Waktu.
- Konten.
- Tenaga.
- Monitoring.
Karena itu, sebelum memilih channel, tentukan tujuan.
- Apakah perusahaan ingin meningkatkan awareness?
- Mendapatkan leads?
- Meningkatkan transaksi?
- Mendapatkan reseller?
- Mengaktifkan kembali pelanggan lama?
- Mendukung tim sales?
Tujuan yang berbeda dapat membutuhkan strategi yang berbeda.
Menganggap Semua Orang sebagai Target Pasar
Kalimat seperti:
“Produk kami cocok untuk semua orang.”
terlihat seperti peluang yang besar, tetapi dapat membuat marketing kehilangan fokus.
Jika semua orang menjadi target, pesan yang dibuat biasanya menjadi terlalu umum.
Misalnya sebuah software bisnis sebenarnya paling relevan untuk perusahaan dengan banyak cabang.
Jika komunikasinya hanya mengatakan:
“Solusi terbaik untuk bisnis Anda.”
pesannya tidak menjelaskan masalah apa yang diselesaikan.
Bandingkan dengan pesan yang membahas kesulitan menggabungkan laporan dari banyak cabang.
Target pelanggan yang mengalami masalah tersebut akan lebih mudah merasa bahwa produk memang relevan bagi mereka.
Tidak Memahami Masalah Pelanggan
Marketing sering terlalu fokus pada produk.
Konten berisi:
- Fitur.
- Spesifikasi.
- Harga.
- Promo.
- Keunggulan.
Namun, pelanggan belum tentu memulai pencarian dari produk.
Mereka biasanya memulai dari masalah.
Misalnya:
“Bagaimana mengelola follow-up sales?”
“Bagaimana mengurangi pekerjaan admin?”
“Bagaimana membuat website perusahaan?”
“Bagaimana mengontrol transaksi cabang?”
Jika perusahaan memahami masalah tersebut, konten dan penawaran dapat dibuat lebih relevan.
Produk kemudian hadir sebagai salah satu solusi.
Terlalu Banyak Membicarakan Diri Sendiri
Coba lihat konten perusahaan selama satu bulan.
Berapa banyak yang berisi:
“Kami terbaik.”
“Kami terpercaya.”
“Kami profesional.”
“Kami berpengalaman.”
“Kami memberikan solusi terbaik.”
Pernyataan tersebut belum tentu salah.
Namun, jika hampir seluruh komunikasi hanya berbicara tentang perusahaan, pelanggan dapat kehilangan alasan untuk memperhatikan.
Cobalah melihat dari sudut pandang mereka.
- Apa yang sedang mereka cari?
- Apa yang ingin mereka pahami?
- Apa yang membuat mereka khawatir?
- Apa pertanyaan yang sering muncul sebelum membeli?
Marketing yang baik membantu pelanggan memahami sesuatu, bukan hanya meminta mereka membeli.
Menggunakan Bahasa yang Terlalu Umum
Banyak bisnis menggunakan kalimat marketing yang terdengar profesional tetapi sulit dibedakan dari kompetitor.
Misalnya:
“Solusi inovatif untuk bisnis modern.”
“Membantu transformasi digital perusahaan.”
“Partner terbaik untuk pertumbuhan bisnis.”
Kalimat tersebut dapat digunakan oleh ribuan perusahaan.
Cobalah lebih spesifik.
Daripada mengatakan:
“Kami membantu meningkatkan efisiensi.”
jelaskan bagaimana.
Misalnya:
“Sistem membantu tim sales mencatat lead, menjadwalkan follow-up, dan melihat pipeline dalam satu tempat.”
Pesan yang konkret biasanya lebih mudah dipahami.
Memilih Channel Hanya karena Sedang Populer
Tidak semua bisnis harus aktif di semua platform.
Sebuah bisnis B2B mungkin mendapatkan hasil lebih baik dari website, SEO, LinkedIn, networking, dan direct outreach.
Bisnis retail mungkin lebih cocok menggunakan Instagram, TikTok, marketplace, atau channel lain sesuai karakter pelanggan.
Tidak ada channel yang selalu terbaik.
Pertanyaannya adalah:
- Di mana target pelanggan berada?
- Bagaimana mereka mencari informasi?
- Berapa biaya menggunakan channel tersebut?
- Apakah tim mampu mengelolanya?
- Bagaimana kualitas hasilnya?
Gunakan jawaban tersebut untuk menentukan prioritas.
Berusaha Aktif di Terlalu Banyak Platform
Perusahaan kecil sering mempunyai sumber daya marketing terbatas.
Jika harus mengelola enam platform sekaligus, kualitas dapat menurun.
Lebih baik memilih beberapa channel utama dan menjalankannya secara konsisten.
Setelah sistem sudah berjalan, channel baru dapat ditambahkan.
Strategi digital marketing tidak dinilai dari jumlah akun yang dimiliki perusahaan.
Yang lebih penting adalah apakah channel tersebut memberikan kontribusi terhadap tujuan bisnis.
Tidak Mempunyai Website yang Meyakinkan
Media sosial memang penting, tetapi untuk banyak jenis bisnis, website tetap menjadi salah satu titik yang digunakan calon pelanggan untuk memeriksa kredibilitas.
Mereka mungkin menemukan perusahaan dari iklan.
Kemudian membuka website.
Jika website lambat, informasinya tidak jelas, tampilannya tidak meyakinkan, atau sulit digunakan melalui smartphone, calon pelanggan dapat kehilangan kepercayaan.
Website tidak harus mempunyai desain yang sangat rumit.
Yang lebih penting adalah jelas.
- Siapa perusahaan Anda?
- Apa yang ditawarkan?
- Untuk siapa?
- Apa manfaatnya?
- Bagaimana cara menghubungi?
- Apakah terdapat portfolio atau bukti yang relevan?
Informasi dasar tersebut perlu mudah ditemukan.
Landing Page Tidak Sesuai dengan Iklan
Bayangkan iklan menawarkan:
“Jasa pembuatan website company profile.”
Ketika diklik, pengguna diarahkan ke homepage yang berisi sepuluh layanan berbeda.
Pengunjung harus mencari sendiri.
Setiap langkah tambahan menciptakan kemungkinan mereka pergi.
Landing page sebaiknya mempunyai hubungan yang jelas dengan iklan.
Jika iklan membahas satu layanan, halaman tujuan sebaiknya menjelaskan layanan tersebut.
Pesan antara iklan dan landing page perlu konsisten.
CTA Tidak Jelas
Setelah seseorang membaca konten atau landing page, apa yang harus dilakukan?
- Hubungi WhatsApp?
- Isi formulir?
- Daftar?
- Beli?
- Jadwalkan konsultasi?
- Download?
Jika tidak ada langkah yang jelas, calon pelanggan dapat pergi begitu saja.
CTA atau call to action membantu memberikan arah.
Namun, jangan pula memenuhi halaman dengan terlalu banyak CTA yang berbeda.
Pilih tindakan utama sesuai tujuan halaman.
Formulir Terlalu Panjang
Perusahaan tentu membutuhkan informasi mengenai calon pelanggan.
Namun, meminta terlalu banyak data di awal dapat menurunkan minat.
Untuk lead awal, mungkin cukup meminta:
- Nama.
- Kontak.
- Perusahaan jika relevan.
- Kebutuhan singkat.
Informasi lain dapat digali setelah komunikasi dimulai.
Semakin besar komitmen yang diminta, semakin kuat alasan pelanggan harus mengisinya.
Mengejar Traffic Tanpa Memperhatikan Kualitas
Traffic tinggi terlihat menarik.
Website mendapatkan 100.000 pengunjung per bulan terdengar lebih bagus dibandingkan 10.000.
Namun, pertanyaan berikutnya lebih penting:
- Siapa pengunjung tersebut?
- Apakah sesuai target?
- Apa yang mereka lakukan?
- Apakah menghasilkan lead?
- Apakah menghasilkan transaksi?
Traffic hanyalah salah satu bagian funnel.
Dalam beberapa bisnis, 10.000 pengunjung yang sangat relevan dapat lebih berharga dibandingkan 100.000 pengunjung yang tidak mempunyai kebutuhan terhadap produk.
Mengukur Keberhasilan Hanya dari Followers
Followers dapat menjadi indikator pertumbuhan audience.
Namun, jumlah followers saja tidak cukup untuk menilai keberhasilan digital marketing.
Akun dengan 100.000 followers belum tentu menghasilkan penjualan lebih besar dibandingkan akun dengan 10.000 followers.
Perhatikan juga:
- Engagement.
- Traffic.
- Leads.
- Qualified leads.
- Conversion.
- Repeat purchase.
- Revenue.
- Profit.
Indikator yang dipilih harus mengikuti tujuan marketing.
Terlalu Terobsesi dengan Likes dan Views
Konten dengan jutaan views memang menyenangkan.
- Namun, apakah orang yang melihat merupakan target pasar?
- Apakah mereka memahami brand?
- Apakah terdapat peningkatan pencarian brand?
- Apakah ada traffic?
- Apakah leads meningkat?
- Apakah penjualan berubah?
Tidak semua konten harus langsung menghasilkan transaksi.
Konten awareness mempunyai fungsi berbeda.
Namun, perusahaan tetap perlu mengetahui tujuan setiap jenis konten agar tidak hanya mengejar angka yang terlihat besar.
Tidak Mempunyai Strategi Konten
Membuat konten setiap hari belum tentu berarti mempunyai content strategy.
Strategi konten menjawab beberapa pertanyaan.
- Siapa audiensnya?
- Apa masalah mereka?
- Topik apa yang relevan?
- Apa tujuan konten?
- Channel apa yang digunakan?
- Apa hubungan konten dengan produk?
- Bagaimana distribusinya?
Tanpa strategi, tim dapat kehabisan ide dan akhirnya membuat konten hanya untuk memenuhi kalender.
Konten Terlalu Banyak Berjualan
Jika setiap posting berisi:
“Beli sekarang.”
“Promo hari ini.”
“Hubungi kami.”
“Diskon terbatas.”
audience dapat merasa hanya dijadikan target penjualan.
Seimbangkan.
Buat konten yang membantu.
Misalnya:
- Edukasi.
- Tips.
- FAQ.
- Studi kasus.
- Insight.
- Cara kerja.
- Kesalahan umum.
- Panduan.
- Cerita pelanggan.
- Behind the scenes jika relevan.
Promosi tetap diperlukan, tetapi tidak harus menjadi satu-satunya bentuk komunikasi.
Sebaliknya, Konten Jangan Sampai Tidak Terhubung dengan Bisnis
Ada juga kondisi sebaliknya.
Perusahaan membuat banyak konten menarik dan viral, tetapi tidak mempunyai hubungan dengan produk atau target pelanggan.
Followers bertambah.
Views meningkat.
Namun, ketika perusahaan menawarkan produk, audience tidak tertarik.
Konten sebaiknya tetap mempunyai hubungan dengan positioning bisnis.
Tidak harus selalu menjual, tetapi audience yang dibangun idealnya masih relevan dengan pasar yang ingin dilayani.
Tidak Konsisten
Digital marketing biasanya membutuhkan waktu.
- SEO membutuhkan proses.
- Brand membutuhkan pengulangan.
- Audience membutuhkan waktu untuk mengenal perusahaan.
- Konten membutuhkan eksperimen.
Kesalahan yang sering terjadi adalah perusahaan sangat aktif selama satu bulan kemudian berhenti selama tiga bulan.
Setelah itu aktif lagi ketika penjualan turun.
Lebih baik mempunyai ritme yang realistis.
Jika tim hanya mampu membuat dua konten berkualitas setiap minggu, itu dapat lebih baik daripada memaksakan dua konten setiap hari kemudian berhenti karena kehabisan tenaga.
Mengharapkan Hasil Terlalu Cepat
Beberapa channel dapat memberikan hasil lebih cepat, seperti iklan berbayar.
Channel lain membutuhkan waktu lebih panjang, seperti SEO dan pembangunan brand.
Perusahaan perlu memahami karakter masing-masing.
Jangan menghentikan strategi jangka panjang hanya karena belum menghasilkan transaksi dalam beberapa minggu.
Sebaliknya, jangan pula terus mempertahankan strategi yang tidak menunjukkan perkembangan tanpa melakukan evaluasi.
Gunakan indikator yang sesuai dengan tahapnya.
Menjalankan Iklan Tanpa Fondasi yang Baik
Iklan dapat mendatangkan traffic.
Namun, iklan tidak otomatis memperbaiki penawaran yang buruk.
Jika landing page tidak jelas, produk tidak relevan, harga tidak kompetitif, atau proses sales buruk, menambah anggaran iklan hanya membuat lebih banyak orang masuk ke funnel yang bermasalah.
Sebelum meningkatkan budget, periksa perjalanan pelanggan.
- Apakah iklan relevan?
- Apakah landing page meyakinkan?
- Apakah CTA jelas?
- Apakah respons cepat?
- Apakah follow-up berjalan?
Terlalu Fokus pada Cost per Lead
Misalnya:
Campaign A menghasilkan CPL Rp20.000.
Campaign B menghasilkan CPL Rp50.000.
Sekilas Campaign A terlihat lebih baik.
Namun, bagaimana jika leads Campaign A jarang membeli sedangkan Campaign B menghasilkan banyak pelanggan?
Perusahaan perlu melihat lebih jauh.
Misalnya:
- Cost per qualified lead.
- Conversion rate.
- Customer acquisition cost.
- Nilai transaksi.
- Margin.
- Kualitas pelanggan.
Jangan menghentikan campaign yang terlihat mahal sebelum memahami nilai yang dihasilkannya.
Tidak Menghubungkan Marketing dengan Sales
Marketing menghasilkan leads.
Sales melakukan follow-up.
Namun, keduanya jarang berkomunikasi.
Marketing mengatakan leads sudah banyak.
Sales mengatakan kualitasnya buruk.
Masalah seperti ini dapat berlangsung berbulan-bulan jika tidak ada definisi bersama.
Tentukan apa yang dimaksud:
- Lead.
- Qualified lead.
- Opportunity.
- Customer.
Kemudian gunakan data yang sama.
Marketing Perlu Mendapatkan Feedback dari Sales
Sales mengetahui apa yang terjadi setelah lead masuk.
Mereka mengetahui:
- Pertanyaan pelanggan.
- Keberatan.
- Budget.
- Kompetitor.
- Alasan gagal.
- Kebutuhan.
Informasi tersebut sangat berharga untuk marketing.
Misalnya banyak pelanggan ternyata salah memahami sebuah fitur.
Marketing dapat membuat konten untuk menjelaskannya.
Atau banyak leads berasal dari segmen yang tidak sesuai.
Targeting campaign dapat diperbaiki.
Marketing dan sales sebaiknya menjadi satu siklus pembelajaran.
Follow-Up yang Lambat
Calon pelanggan yang baru mengisi formulir biasanya sedang aktif mencari solusi.
Jika baru dihubungi beberapa hari kemudian, momentum dapat hilang.
Mungkin mereka sudah berbicara dengan kompetitor.
- Buat standar respons yang realistis.
- Gunakan notifikasi.
- Tentukan PIC.
Jika volume sudah besar, CRM dapat membantu distribusi lead.
Kecepatan bukan berarti harus langsung memaksa pelanggan membeli.
Tujuannya memberikan respons ketika kebutuhan masih relevan.
Tidak Mempunyai Sistem Follow-Up
Tidak semua calon pelanggan membeli setelah percakapan pertama.
Beberapa membutuhkan waktu.
Jika tidak ada sistem follow-up, lead mudah terlupakan.
Catat:
- Status.
- Aktivitas terakhir.
- Next action.
- Tanggal follow-up.
- PIC.
Dengan begitu, peluang tidak hanya bergantung pada ingatan sales.
Follow-Up Terlalu Agresif
Masalah sebaliknya juga terjadi.
Calon pelanggan baru bertanya sekali tetapi mendapatkan pesan setiap hari.
Follow-up seperti ini dapat terasa mengganggu.
Sesuaikan frekuensi dengan konteks.
Jika pelanggan mengatakan akan membuat keputusan bulan depan, tidak perlu menghubungi setiap hari.
Follow-up sebaiknya memberikan nilai atau membantu proses keputusan.
Tidak Mencatat Sumber Lead
Ketika pelanggan masuk, perusahaan perlu mengetahui dari mana mereka datang.
- Google?
- Instagram?
- TikTok?
- Referral?
- Marketplace?
- Iklan?
- Artikel?
- Event?
Data tersebut membantu menentukan channel yang memberikan hasil.
Namun, jangan hanya menghitung jumlah leads.
Hubungkan dengan kualitas dan transaksi.
Bisa saja channel dengan leads lebih sedikit menghasilkan profit lebih tinggi.
Tidak Menggunakan Tracking dengan Benar
Tanpa tracking, marketing sulit dievaluasi.
Gunakan metode yang sesuai kebutuhan.
Misalnya:
- UTM.
- Conversion tracking.
- Analytics.
- CRM source.
- Kode campaign.
- Nomor kontak khusus jika relevan.
Tujuannya bukan mengumpulkan data sebanyak mungkin.
Tujuannya mengetahui perjalanan pelanggan dengan lebih baik.
Mengubah Campaign Terlalu Cepat
Hari pertama iklan tidak bagus.
Besok targeting diganti.
Hari berikutnya creative diganti.
Kemudian landing page diganti.
Setelah itu budget berubah.
Akhirnya sulit mengetahui perubahan mana yang memberikan dampak.
Berikan waktu yang cukup untuk mengumpulkan data sesuai karakter campaign.
Jika melakukan eksperimen, usahakan perubahan mempunyai tujuan yang jelas.
Tidak Melakukan Eksperimen
Sebaliknya, mempertahankan campaign yang sama selama berbulan-bulan tanpa mencoba sesuatu yang baru juga kurang sehat.
Lakukan pengujian.
Misalnya:
- Headline.
- Visual.
- CTA.
- Audience.
- Offer.
- Landing page.
- Format konten.
Namun, jangan mengubah semuanya sekaligus.
Dengan pengujian yang lebih terstruktur, perusahaan dapat belajar.
Meniru Kompetitor Terlalu Banyak
Melihat kompetitor penting.
Anda dapat memahami:
- Bagaimana mereka berkomunikasi.
- Apa produknya.
- Bagaimana positioning.
- Apa penawarannya.
Namun, jangan menjadikan kompetitor sebagai satu-satunya sumber strategi.
Anda tidak mengetahui data internal mereka.
Campaign yang terlihat ramai belum tentu menghasilkan profit.
Harga murah belum tentu menguntungkan.
Konten viral belum tentu menghasilkan pelanggan.
Gunakan kompetitor sebagai referensi, bukan sebagai panduan mutlak.
Mengabaikan Branding karena Terlalu Fokus pada Performance Marketing
Iklan dapat menghasilkan leads.
Namun, calon pelanggan sering tetap memeriksa brand sebelum membeli.
- Mereka mencari nama perusahaan.
- Melihat website.
- Membuka media sosial.
- Membaca review.
- Memeriksa portfolio.
Jika seluruh jejak digital tidak meyakinkan, conversion dapat terganggu.
Karena itu, branding dan performance marketing tidak harus dipertentangkan.
Keduanya dapat saling mendukung.
Branding Tanpa Distribusi Juga Kurang Efektif
Perusahaan membuat konten berkualitas.
Desain bagus.
Website bagus.
Namun, tidak ada strategi distribusi.
Konten hanya dipublikasikan lalu ditinggalkan.
Pikirkan bagaimana konten ditemukan.
- Melalui SEO?
- Media sosial?
- Email?
- Ads?
- Komunitas?
- Sales?
Distribusi sama pentingnya dengan produksi konten.
Mengabaikan SEO karena Hasilnya Tidak Instan
SEO dapat menjadi salah satu channel jangka panjang untuk bisnis tertentu.
Namun, SEO bukan hanya memasukkan keyword sebanyak mungkin.
Konten perlu benar-benar menjawab kebutuhan pencarian.
Website juga perlu mempunyai struktur yang baik.
- Kecepatan.
- Mobile friendly.
- Internal linking.
- Navigasi.
- Kualitas halaman.
SEO sebaiknya dipandang sebagai bagian dari pengalaman pengguna dan distribusi konten, bukan sekadar permainan keyword.
Membuat Banyak Konten yang Terlalu Mirip
Mengejar banyak keyword dapat membuat perusahaan membuat puluhan artikel dengan isi yang hampir sama.
Akibatnya, kualitas menurun.
Pembaca tidak mendapatkan informasi baru.
Lebih baik setiap artikel mempunyai sudut pembahasan yang jelas.
Jika topiknya berdekatan, bedakan intent.
Satu artikel dapat membahas panduan.
Artikel lain membahas biaya.
Artikel berikutnya membahas perbandingan.
Yang lain membahas kesalahan.
Dengan demikian, setiap halaman mempunyai fungsi.
Mengabaikan Pengguna Mobile
Banyak pelanggan mengakses internet melalui smartphone.
Jika website hanya nyaman di desktop, pengalaman pengguna dapat terganggu.
Periksa:
- Ukuran teks.
- Tombol.
- Form.
- Navigasi.
- Kecepatan.
- Popup.
- WhatsApp button.
- Checkout.
Pastikan pengguna tidak harus melakukan zoom atau kesulitan menekan tombol.
Membuat Website Terlalu Berat
Desain menarik memang penting.
Namun, terlalu banyak animasi, video, script, dan gambar besar dapat memperlambat website.
Pengunjung tidak selalu mempunyai koneksi cepat.
- Optimalkan gambar.
- Kurangi elemen yang tidak diperlukan.
- Gunakan teknologi secara proporsional.
Website yang cepat dan jelas sering lebih berguna daripada website yang sangat kompleks tetapi lambat.
Mengabaikan Pelanggan Lama
Digital marketing sering terlalu fokus mendapatkan pelanggan baru.
Padahal pelanggan lama sudah mengenal perusahaan.
Perusahaan dapat menggunakan marketing untuk:
- Memberikan informasi produk baru.
- Mengingatkan layanan.
- Memberikan edukasi.
- Melakukan cross-selling.
- Upselling.
- Mendorong repeat purchase.
- Meminta referral.
Biaya mempertahankan hubungan dengan pelanggan yang sudah ada dapat berbeda dengan mencari pelanggan baru, tergantung model bisnis.
Karena itu, masukkan retention ke dalam strategi.
Mengirim Broadcast Tanpa Segmentasi
Database pelanggan sangat berharga.
Namun, jangan mengirim semua pesan kepada semua orang.
Misalnya pelanggan produk A mendapatkan promosi produk yang sama sekali tidak relevan.
Jika terjadi terlalu sering, pelanggan dapat mengabaikan pesan perusahaan.
Gunakan segmentasi.
Berdasarkan:
- Produk.
- Riwayat pembelian.
- Lokasi jika relevan.
- Status pelanggan.
- Minat.
- Aktivitas.
Dengan demikian, komunikasi lebih relevan.
Mengandalkan Diskon Terlalu Sering
Diskon memang dapat meningkatkan transaksi.
Namun, jika dilakukan terus-menerus, pelanggan dapat terbiasa menunggu.
Harga normal kemudian terasa terlalu mahal.
Gunakan promosi dengan tujuan yang jelas.
Misalnya:
- Akuisisi pelanggan baru.
- Menghabiskan stok tertentu.
- Mendorong bundling.
- Meningkatkan repeat purchase.
- Mengaktifkan pelanggan lama.
Setelah campaign selesai, evaluasi dampaknya terhadap margin, bukan hanya omzet.
Tidak Menghitung Profit dari Campaign
Campaign menghasilkan omzet Rp100 juta.
Apakah berarti sukses?
- Belum tentu.
- Periksa:
- Biaya iklan.
- Diskon.
- COGS.
- Fee platform.
- Komisi.
- Biaya agency.
- Biaya produksi konten.
- Refund jika ada.
Setelah seluruh biaya diperhitungkan, perusahaan mendapatkan gambaran yang lebih realistis.
Marketing sebaiknya terhubung dengan ekonomi bisnis.
Tidak Memperhatikan Customer Experience Setelah Conversion
Digital marketing tidak selesai ketika pelanggan melakukan pembayaran.
Jika onboarding buruk, pengiriman terlambat, customer service sulit dihubungi, atau produk tidak sesuai ekspektasi, pelanggan dapat kecewa.
Pengalaman tersebut dapat memengaruhi:
- Repeat purchase.
- Review.
- Referral.
- Reputasi.
Karena itu, marketing perlu memahami pengalaman setelah penjualan.
Janji dalam iklan harus sesuai dengan kemampuan operasional.
Membuat Klaim yang Terlalu Berlebihan
Dalam persaingan digital, perusahaan mudah tergoda membuat headline ekstrem.
“Nomor 1.”
“100% pasti berhasil.”
“Paling murah.”
“Pasti meningkatkan omzet.”
Klaim seperti ini perlu digunakan dengan sangat hati-hati dan harus dapat dipertanggungjawabkan.
Kepercayaan membutuhkan waktu untuk dibangun tetapi dapat rusak dengan cepat.
Lebih baik menjelaskan nilai secara konkret daripada membuat janji yang sulit dibuktikan.
Tidak Membangun Bukti Kepercayaan
Calon pelanggan terutama untuk transaksi bernilai besar membutuhkan alasan untuk percaya.
Bukti dapat berupa:
- Portfolio.
- Testimoni.
- Studi kasus.
- Profil perusahaan.
- Informasi kontak.
- Alamat bisnis jika relevan.
- Dokumentasi legal jika memang perlu ditampilkan.
- Proses kerja.
- Tim.
- Partner.
Namun, gunakan bukti yang nyata.
Jangan membuat testimoni palsu atau angka yang tidak dapat dibuktikan.
Menganggap Otomatisasi Bisa Menggantikan Semua Interaksi
Chatbot, autoresponder, dan AI dapat membantu.
Namun, tidak semua pertanyaan pelanggan dapat dijawab otomatis.
Jika pelanggan mempunyai masalah kompleks tetapi terus diarahkan ke menu otomatis, pengalaman menjadi buruk.
- Buat jalur eskalasi.
- Pertanyaan sederhana dapat otomatis.
- Masalah kompleks diteruskan kepada manusia.
Teknologi sebaiknya mempercepat pelayanan, bukan membuat pelanggan terjebak.
Tidak Menyatukan Data Marketing
Data sering tersebar.
- Analytics mempunyai angka sendiri.
- Ads mempunyai dashboard.
- CRM mempunyai data leads.
- Sales mempunyai spreadsheet.
- Finance mempunyai transaksi.
Jika tidak dihubungkan, perusahaan sulit mengetahui perjalanan lengkap.
Tidak harus langsung membangun data warehouse.
Mulailah dari struktur sederhana.
Misalnya setiap lead mempunyai source.
Setiap campaign mempunyai kode.
CRM menyimpan status.
Transaksi dapat dihubungkan dengan customer.
Dengan fondasi tersebut, analisis dapat berkembang.
Tidak Melakukan Review Secara Berkala
Digital marketing membutuhkan evaluasi.
Bukan hanya ketika hasil turun.
Lakukan review secara rutin.
Pertanyaan yang dapat digunakan antara lain:
- Channel mana menghasilkan lead?
- Channel mana menghasilkan qualified lead?
- Apa konten yang paling relevan?
- Berapa conversion rate?
- Mengapa opportunity gagal?
- Campaign mana menghasilkan profit?
- Bagaimana pelanggan menemukan perusahaan?
- Apa pertanyaan yang sering muncul?
- Apa yang berubah dibandingkan periode sebelumnya?
Review membuat marketing menjadi proses belajar.
Terlalu Banyak KPI
Dashboard dengan 50 angka terlihat lengkap.
Namun, management dapat kehilangan fokus.
Pilih beberapa indikator utama sesuai tujuan.
Misalnya untuk lead generation:
- Traffic.
- Leads.
- Qualified leads.
- Cost per qualified lead.
- Conversion.
- Customer acquisition cost.
- Revenue atau profit yang dihasilkan.
Indikator lain tetap dapat tersedia untuk analisis lebih detail.
Namun, laporan utama sebaiknya membantu keputusan.
Tidak Memberikan Waktu untuk Strategi Berkembang
Brand tidak dibangun dalam satu minggu.
SEO tidak selalu memberikan hasil dalam beberapa hari.
Konten membutuhkan proses.
Database membutuhkan waktu.
Optimasi campaign membutuhkan data.
Karena itu, digital marketing membutuhkan konsistensi.
Namun, konsistensi bukan berarti melakukan hal yang sama selamanya.
- Tetap evaluasi.
- Belajar.
- Perbaiki.
Tidak Mempunyai Dokumentasi
Ketika marketing hanya diketahui satu orang, perusahaan mempunyai risiko.
- Apa target audience?
- Bagaimana struktur campaign?
- Apa tone of voice?
- Bagaimana proses approval?
- Di mana aset desain?
- Apa akses platform?
- Bagaimana naming campaign?
- Apa KPI?
Dokumentasikan.
Tidak perlu terlalu rumit.
Dokumentasi membantu ketika tim bertambah atau terjadi pergantian orang.
Tidak Menjaga Kepemilikan Akun Digital
Akun iklan, website, domain, analytics, media sosial, dan berbagai aset digital sebaiknya mempunyai struktur kepemilikan yang jelas.
Jangan sampai seluruh akses hanya berada pada akun pribadi satu karyawan atau vendor.
Perusahaan perlu mempunyai akses administratif yang sesuai.
Ketika kerja sama selesai atau karyawan keluar, akses dapat diperbarui tanpa kehilangan aset.
Ini sering terlihat seperti masalah teknis, tetapi sebenarnya merupakan bagian penting dari manajemen digital marketing.
Strategi Digital Marketing Harus Terhubung dengan Strategi Bisnis
Marketing tidak berjalan sendiri.
Jika perusahaan ingin meningkatkan bisnis B2B, aktivitas digital harus membantu menghasilkan dan mengembangkan peluang B2B.
Jika perusahaan ingin meningkatkan repeat purchase, marketing perlu memperhatikan pelanggan lama.
Jika perusahaan ingin membangun positioning premium, pesan, desain, pelayanan, dan harga perlu mendukung positioning tersebut.
Jika perusahaan ingin ekspansi ke wilayah baru, digital marketing dapat membantu membangun awareness dan permintaan di wilayah tersebut.
Strategi marketing sebaiknya mengikuti arah perusahaan.
Digital Marketing yang Sehat Berangkat dari Pemahaman Pelanggan
Pada akhirnya, sebagian besar kesalahan digital marketing mempunyai akar yang hampir sama: perusahaan terlalu fokus pada aktivitas dan melupakan tujuan.
- Konten dibuat karena harus posting.
- Iklan dijalankan karena harus mendapatkan traffic.
- Website dibuat karena semua perusahaan punya website.
- SEO dilakukan karena kompetitor melakukan SEO.
- Followers dikejar karena terlihat bagus dalam laporan.
Padahal pertanyaan yang lebih penting adalah:
- Siapa pelanggan yang ingin dijangkau?
- Apa masalah mereka?
- Informasi apa yang mereka butuhkan?
- Mengapa mereka harus mempertimbangkan perusahaan Anda?
- Bagaimana mereka mengambil keputusan?
- Apa yang membuat mereka percaya?
- Apa yang membuat mereka tidak jadi membeli?
- Bagaimana pengalaman mereka setelah membeli?
Ketika perusahaan mulai memahami pertanyaan tersebut, digital marketing menjadi lebih terarah.
Hindari Kesalahan dengan Membangun Sistem Marketing yang Sederhana
Tidak semua bisnis membutuhkan strategi digital marketing yang kompleks.
- Mulailah dengan fondasi.
- Kenali target pelanggan.
- Tentukan tujuan.
- Pilih beberapa channel utama.
- Buat pesan yang jelas.
- Bangun website atau landing page yang relevan.
- Buat konten yang membantu.
- Pasang tracking secukupnya.
- Hubungkan marketing dengan sales.
- Catat sumber lead.
- Lakukan follow-up.
- Ukur conversion.
- Hitung biaya dan hasil.
- Dengarkan pelanggan.
- Evaluasi secara rutin.
Setelah fondasi tersebut berjalan, perusahaan dapat menambahkan strategi yang lebih kompleks.
- Kesalahan tetap mungkin terjadi.
- Campaign dapat gagal.
- Konten dapat sepi.
- Iklan dapat menghasilkan lead yang kurang berkualitas.
- Eksperimen dapat memberikan hasil yang berbeda dari harapan.
Digital marketing yang baik bukan tentang melakukan sebanyak mungkin aktivitas. Digital marketing yang baik adalah kemampuan memilih aktivitas yang paling relevan, menjalankannya secara konsisten, mengukur hasilnya, dan terus memperbaikinya berdasarkan data serta pemahaman terhadap pelanggan.
Hal tersebut merupakan bagian dari proses.
Yang perlu dihindari adalah mengulangi kesalahan yang sama karena perusahaan tidak mempunyai sistem untuk belajar.
Ketika data marketing, feedback sales, perilaku pelanggan, dan hasil transaksi mulai dilihat sebagai satu rangkaian, perusahaan akan mempunyai pemahaman yang lebih baik mengenai apa yang benar-benar bekerja.
Dari sana, anggaran dapat dialokasikan dengan lebih masuk akal. Tim dapat mempunyai prioritas yang lebih jelas. Konten menjadi lebih relevan. Sales mendapatkan lead yang lebih sesuai. Pelanggan juga mendapatkan pengalaman yang lebih konsisten sejak pertama mengenal brand hingga akhirnya menggunakan produk atau layanan.
Pada akhirnya, digital marketing bukan hanya tentang mendapatkan perhatian di internet.
Tujuannya adalah membangun hubungan antara kebutuhan pelanggan dan nilai yang ditawarkan bisnis.
Jika hubungan tersebut dibangun dengan jelas, konsisten, terukur, dan tetap manusiawi, digital marketing dapat berkembang dari sekadar aktivitas promosi menjadi bagian penting dari strategi pertumbuhan perusahaan.



